?

Log in

No account? Create an account

[Oneshot] Refrain

1500x500.jpg

Pairing: Takuya x Yusuke
Rating: T (13+; based on FictionRatings.com)
Genre: Shounen Ai, Romance, Tragedy


[Refrain]Entah sudah berapa kali Takuya menghela napas tanpa melepaskan pandangan dari pintu bercat putih yang tegak berdiri di hadapannya. Berbagai macam pikiran buruk berkecamuk di kepala pemuda bersurai coklat itu.

'Aku baru saja mengunjungi Yusuke. Ah! Lebih baik kau segera menemuinya. Sebelum semuanya terlambat.'

Begitulah bunyi chat dari Kai, yang berhasil membuat Takuya tak dapat menutup matanya selama satu malam perjalanan pulangnya dari luar negeri.

Sebelum semuanya terlambat.

Satu jam lebih sudah dilalui Takuya untuk mempersiapkan diri menjumpai Yusuke yang berada di balik pintu. Kedua tangannya yang menopang sebuket bunga berwarna kuning seakan membeku seiring berputarnya jarum jam di pergelangan tangan kirinya.

Usai memantapkan hati, Takuya mengetuk pintu perlahan dan memutar kenop.

"Yusuke, aku masuk, ya," ucapnya memberi salam pada pemuda yang telah menunggunya di dalam.

Pemuda bermarga Fukuda itu tak menunjukkan ekspresi apapun atas kehadiran Takuya. Bibirnya terkatup tanpa sedikitpun suara yang terlontar.

Takuya tersenyum lembut mendapati paras tegas milik Yusuke. Dihampirinya sang adam yang berbalut selimut putih itu dengan langkah tenang, berusaha tak menimbulkan suara. Ia mengganti bunga di vas dengan bunga segar yang dibawanya, lalu membuang bunga yang mulai layu ke keranjang sampah.

"Gadis penjual bunga itu memberitahuku bahwa bunga mataharinya akan segera mekar," Takuya memulai percakapan. Ia menoleh pada Yusuke, "Kau sudah lama menunggunya, bukan?"

Takuya menempatkan dirinya di samping sosok yang masih belum menunjukkan reaksi apapun. Ditatapnya dalam-dalam pemuda yang telah berbaring di atas kasur yang sama selama tiga bulan tersebut.

Kecelakaan saat itu hampir saja membuat Takuya kehilangan nyawanya. Beruntung kakinya hanya terkilir setelah Yusuke sekuat tenaga mendorongnya ke trotoar. Ia terhindar dari hentakan mobil yang melaju cukup kencang, namun Yusuke terlempar dan menghantam tiang lampu yang berada tak jauh dari Takuya.

Darah mengucur deras membasahi pakaian Yusuke. Tanpa memikirkan kakinya yang sakit, Takuya berlari menghampiri Yusuke dan meminta pertolongan. Tindakan yang sigap berhasil menyelamatkan Yusuke dari maut, tapi tidak cukup untuk membuatnya segera membuka mata.

"Yusuke…" panggil Takuya dengan suara parau.

Mengingat kejadian tiga bulan lalu selalu membuat Takuya merasa bersalah.

Andai saja ia tidak bergelut dengan pikirannya sendiri…

Andai saja hatinya tidak merasa ragu…

Andai saja ia segera menyatakan perasaannya…

"Hei, Yusuke. Kau ingat lonceng kecil yang kau berikan saat Natal tahun lalu? Aku mengatakan hadiah itu sangat bodoh. Tapi kurasa aku lebih bodoh karena masih menyimpannya. Aku bahkan selalu membunyikannya sebelum aku tidur. Kau pasti tertawa kalau kau tahu, seperti saat kau membunyikannya di hadapanku saat itu," Takuya menghentikan kalimatnya, seolah mendengar gelak tawa Yusuke yang khas.

Takuya mengusapkan telunjuknya ke pipi Yusuke. Kering.

"Tiga bulan lalu, aku membawanya saat kita bertemu di café. Kukira lonceng itu adalah jimat keberuntungan bagiku," Takuya tercekat. Air matanya mulai menetes satu demi satu.

"Aku sudah mempersiapkan segalanya. Aku sudah memikirkan kata-kata yang akan kuucapkan hari itu. Tapi aku ternyata tidak cukup berani. Aku…" isak tangis Takuya semakin keras terdengar di sela-sela kalimatnya.

"Aku mencintaimu," Takuya akhirnya mengucapkan kata-kata yang telah ditahannya cukup lama. Namun menyatakannya di depan Yusuke yang tak dapat mendengarnya membuat rasa penyesalan di hati Takuya semakin dalam.

Takuya membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya sementara bahunya tak berhenti naik turun menahan air mata yang sudah tidak dapat dibendung lagi. Meski tidak mungkin, Takuya berharap Yusuke mendengarnya. Ia merindukan tawa Yusuke saat berhasil menggodanya. Ia merindukan suara Yusuke. Senyum cerah Yusuke tak pernah hilang dari benaknya sejak sang cupid menancapkan panah pada Takuya.

Takuya terkejut saat tiba-tiba merasakan sentuhan di tangannya.

"Takuchan…"

Takuya mengangkat wajahnya. Ia mendapati Yusuke menatapnya sambil tersenyum lemah.

"Kenapa menangis?" tanya Yusuke saat tangannya berusaha mengusap air mata dari pipi Takuya.

"Y-Yusuke…" Takuya memanggil nama Yusuke lirih, masih belum memercayai penglihatannya.

"Takuchan manis, ya," Yusuke terkekeh pelan.

"Sejak kapan…" Takuya yang mulai tersadar, menggenggam jemari Yusuke yang menelusuri pipinya.

"Semalam. Saat Kai datang menjenguk. Kurasa ingatanku masih berhenti di kejadian tiga bulan lalu. Segala yang kuingat hanya Takuchan. Aku mengkhawatirkan Takuchan. Aku bahkan mengira Kai adalah Takuchan," kata Yusuke.

"Jadi… kau mendengarku?" tanya Takuya dengan berhati-hati.

"Aku hanya berpura-pura tidur," Yusuke kembali terkekeh, "Tapi aku tidak menyangka Takuchan akan mengatakan hal itu."

Takuya menundukkan wajahnya, menghentikan kontak mata dengan Yusuke. Jantungnya semakin tidak karuan. Kebahagiaan karena dewa mengabulkan harapannya, dan juga malu karena telah mengungkapkan perasaannya pada Yusuke.

"Aku juga menyukai Takuchan."

"He?" Takuya mulai berpikir bahwa dirinya serakah untuk kembali meminta agar halusinasi tidak menipu pendengarannya.

"Aku mencintai Takuchan," ulang Yusuke dengan suara lebih keras.

Takuya masih terdiam menatap Yusuke hingga pemuda itu menarik leher Takuya dan mempertemukan bibirnya dengan bibir Takuya. Kecupan hangat menyadarkan Takuya bahwa ia tidak sedang berhalusinasi. Takuya memejamkan matanya dan membalas ciuman Yusuke. Keduanya bertahan selama beberapa detik sebelum melepaskan tautan bibir mereka, dengan tetap menyatukan dahi satu sama lain dan saling menatap dalam.

"Jangan meninggalkan aku lagi, Yusuke."


[Drabble] Kiss


Pairing: Takuya x Yusuke
Rating: M (16+; based on FictionRatings.com)
Genre: Shounen Ai, Romance, Slice of Life, Alternate Universe


[Kiss]Takuya menyipitkan matanya yang baru saja terbuka tatkala sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden kamarnya tepat mengenai kedua bola netra miliknya. Ah! Tampaknya ia bangun kesiangan. Ia mengerjap beberapa kali untuk mengembalikan kesadarannya yang sebagian masih berada di alam mimpi.

Takuya mencoba bangkit dari posisi berbaringnya namun gerakannya terpaksa tertahan oleh tangan milik seseorang yang masih terlelap di sampingnya. Iapun menoleh. Seperti yang selalu terjadi sebelumnya, ia mendapati sosok pemuda yang telah kurang lebih dua tahun ini tinggal bersamanya, masih pulas sambil melingkarkan lengan kirinya yang kekar pada pinggang Takuya. Meski ia hampir selalu dapat menatap wajahnya, namun Takuya tak pernah bosan menempatkan pandangannya pada pemuda yang lebih muda satu tahun darinya itu.

Takuya menggerakkan tangannya dan menempelkannya perlahan pada rahang sosok yang masih belum terganggu dari alam mimpinya itu. Kedua ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman manis seiring dengan degub jantungnya yang mengalami akselerasi setiap kali maniknya menangkap sang lelaki yang selalu dicintainya tersebut.

“Yusuke…” gumam Takuya memanggil nama sang pemuda. Pemuda bernama Yusuke itu tak berreaksi. Hanya deru napasnya yang teratur yang tertangkap gendang telinga Takuya.

Takuya mendekatkan wajahnya pada Yusuke perlahan. Beberapa senti sebelum bibirnya mendarat pada bibir Yusuke, Takuya berhenti dan mengamati paras Yusuke lekat-lekat. Garis wajah Yusuke yang tegas membentuk rahangnya membuat Takuya semakin tergoda untuk menyentuhnya.
Tetapi perhatian Takuya segera teralih pada lengan Yusuke yang bebas. Ia mengarahkan tatapannya  pada ujung lengan kanan Yusuke yang berada di atas bantal yang tadinya menjadi alas kepala Takuya. Ponsel pintar milik pemuda yang menyukai warna kuning tersebut tergeletak tidak jauh dari jemarinya. Takuya seolah dapat menebak mengapa benda itu bisa berada di sana saat ini. Ia kembali melemparkan tatapannya pada lelaki yang sama sekali belum mengubah posisinya sedari tadi. Ekspresi yang ditunjukkan Takuya sedikit berbeda dengan sebelumnya, meski ia tahu Yusuke tak akan melihatnya.

“Hei,” bisik Takuya. Ujung telunjuknya menusuk-nusuk pipi Yusuke, “Kau memotretku saat tidur lagi, ya?”

Dengan cemberut, Takuya menuntaskan apa yang tadi hendak dilakukannya. Kecupan kilat dari bibir Takuya berhasil mendarat di bibir Yusuke yang masih terkatup. Takuya segera menyingkirkan lengan Yusuke dari pinggangnya, tanpa peduli apakah hal itu akan membangunkan Yusuke atau tidak.

Takuya melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka sebelum berpindah ke dapur dan menyiapkan sarapan. Dengan telaten, tangannya bergerak menanak nasi dan mencuci sayuran serta daging yang baru dikeluarkannya dari lemari pendingin.

Sudah menjadi kebiasaan baginya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga bahkan sebelum ia tinggal bersama Yusuke. Meskipun keduanya sama-sama mengalami masalah kesulitan bangun pagi, tapi Takuya tidak akan membiarkan Yusuke yang mengambil alih pekerjaan dapur—atau mereka akan sarapan dengan omelet setiap hari.

Suara langkah kaki terdengar samar mengetuk lantai dan mendekat menuju posisi Takuya saat pemuda cantik itu tengah sibuk mengiris sayuran. Yusuke sudah bangun rupanya. Takuya mengabaikan suara yang sudah sangat dikenalnya itu karena ia berpikir bahwa Yusuke sedang menuju ke kamar mandi yang memang harus melewati pintu dapur jika ditempuh dari kamar pribadi mereka berdua. Namun berbeda dari dugaannya, Yusuke justru berbelok masuk ke dapur dan mendekati Takuya, berhenti beberapa langkah di belakang Takuya. Takuya menoleh sesesaat ketika ia menyadari bahwa Yusuke hanya diam menatapnya, sama sekali tak ada suara yang keluar dari mulut Yusuke. Ia kembali fokus pada masakannya.

“Kau mandilah dulu. Sarapan belum siap,” kata Takuya tanpa menghentikan pekerjaannya.

Bukannya menjawab maupun melakukan perintah Takuya, Yusuke justru melangkahkan kakinya semakin mendekati Takuya. Kedua tangannya langsung melingkar di pinggang Takuya begitu tidak ada lagi ruang bagi langkah kaki Yusuke. Ia mengeratkan pelukannya agar semakin tidak ada jarak di antara dirinya dengan Takuya. Dagunya tersandar di bahu Takuya, yang membuat Yusuke dapat leluasa menghirup aroma tubuh Takuya.

“Kau berat, tahu!” protes Takuya, kesal karena kini gerakannya tidak sebebas sebelumnya.

Namun Yusuke justru memberikan kecupan demi kecupan lembut di sekitar leher dan telinga Takuya, membuat Takuya semakin sulit berkonsentrasi dengan kegiatan memasaknya. Jantungnya berderu kencang membuat Takuya sedikit lemas sementara ia berusaha keras menahan napasnya yang memburu. Ia yakin tangan Yusuke yang berada tepat di wilayah jantungnya bisa merasakan detak jantung Takuya yang sudah membuat wajah Takuya bersemu kemerahan.

“Takuchan…” bisik Yusuke tepat di daun telinga Takuya.

Napas Yusuke mendesir pelan menyapu telinga Takuya saat ia mengucapkannya, membuat Takuya semakin sulit mengontrol gerak tangannya yang masih berkutat dengan sayuran dan pisau. Terlebih, cara Yusuke memanggilnya dengan nada manja merupakan hal yang tak pernah gagal membuat Takuya merasa gemas. Tangan Yusuke terasa semakin erat memeluk Takuya.

“Cium aku lagi, dong.”


Happy TakuSuke's day!